home

Air Terjun Coban Jahe dan Sejarah Yang Tersembunyi


Obyek wisata di Malang memang selalu menarik untuk dibahas. Tak hanya wisata pantai yang jadi primadona, namun wisata berupa air terjun pun tak kalah indah. Wilayah Malang yang berupa pegunungan memang potensial sebagai wisata alam, termasuk air terjun. Salah satu wisata air terjun di kota ini yaitu Coban Jahe. Lokasi wisata ini masih alami dan belum begitu populer seperti Coban Rondo atau Coban Sewu.

Coban Jahe juga dikenal sebagai Air Terjun Begawan. Terletak di Dusun Begawan, Pandansari Lor, Jabung, Malang, Jawa Timur air terjun ini menawarkan pesona alam yang tersembunyi. Coban Jahe  memiliki ketinggian sekitar 45 meter dengan batu-batu cadas berukuran raksasa di dinding dan kolam kecil di bawahnya.  Obyek wisata  ini masuk dalam kawasan Perhutani Unit II RPH Sukopuro-Jabung.

Anda pasti penasaran kenapa air terjun ini dinamakan coban Jahe. Jika mendengar kata ‘jahe’, tentu yang terbersit adalah nama air terjun atau coban yang diambil dari salah satu rempah-rempah yang sangat terkenal di zaman Hindia-Belanda yaitu jahe. Namun ternyata jawaban tersebut salah. Sebab nama ‘Jahe’ di area wisata ini maksudnya adalah nama untuk mengenang perjuangan pahlawan kemerdekaan RI sekitar tahun 1947-1948. Nama Jahe sebenarnya diambil dari Bahasa Jawa ‘pejahe’ yang berarti meninggal dunia. Nama itu muncul setelah sekitar satu regu tentara/TNI di bawah komando Ali Murtopo melakukan perlawanan terhadap pemerintah Belanda. Sayangnya, perjuangan itu harus berakhir dengan diluluh-lantakkannya perbukitan di sekitar pintu masuk Coban Jahe dengan bom-bom yang dilontarkan dari atas pesawat. Mereka yang meninggal karena tembakan bom ini dibiarkan begitu saja oleh Belanda. Sebaliknya, warga sekitarlah yang kemudian mengumpulkan jenazah yang saat itu meninggal untuk dikebumikan.

taman makam kali jaheSeiring bergantinya waktu, nama ‘pejahe’ pun lama kelamaan berganti ‘jahe’. Begitu juga nama makam, mereka yang dikebumikan pun dibuatkan tempat peristirahatan terakhir bernama Makam Pahlawan Kali Jahe. Keberadaan Makam Pahlawan Kali Jahe ini bisa dijumpai di sekitar 50 meter sebelum pintu masuk Coban Jahe. Di sisi kanan jalan sekitar makam, berdiri pembatas sederhana berukuran segi empat yang di tengahnya terdapat sebuah tugu. “Karena keberadaan makam sangat jauh dari keramaian, sekitar tahun 1994-1995, makam itu berusaha dipindahkan. Hanya saja, seolah-olah mereka yang sudah dikebumikan di Makam Pahlawan Kali Jahe itu, tidak mau. Sehingga, mobil yang akan mengangkut sisa tulang atau jenazah pahlawan itu tiba-tiba tidak mau berjalan atau mogok,” kata Mudi, petugas Perhutani RPH Sukopuro, Kecamatan Jabung, sehingga akhirnya pemindahan itu batal dilakukan.

Selain mengandung nilai sejarah, air terjun Coban Jahe juga menyuguhkan kealamian alam sekaligus menghadirkan tantangan bagi pengunjungnya. Anda akan dibuat terkesima dengan kondisi alam di sekitar air terjun ini. Maklum, dedaunan dan rerumputan di sekitar kawasan coban ini dibiarkan tumbuh bebas. Jadi tidaklah heran bila bebatuan licin dan rerimbunan tanaman bisa dijumpai di sekitar derasnya deburan air. Tak hanya itu, di setiap sisi air terjun bisa dijumpai pula cadas-cadas berukuran raksasa memperkokoh kondisi Coban Jahe. Sementara di sisi lainnya bebukitan hijau menjulang tinggi. Di sekitar lokasi ini, rindangnya pohon Mahoni juga semakin menambah suasana kesejukan alam Coban Jahe. Letaknya yang tersembunyi di antara bukit-bukit yang tersebar sepanjang jalan keluar dari pedukuhan Begawan benar-benar membuat coban ini alami.

Untuk masuk ke kawasan coban Jahe belum dikenakan tiket masuk. Obyek wisata yang berjarak sekitar 23 km dari kota Malang ini dapat ditempuh dengan kendaraan roda 4 maupun roda 2 dengan mengambil arah ke Tumpang. Sesampainya di Tumpang belok ke kiri ke Desa Pandansari Lor, Dusun Begawan.  Sesampainya di pintu masuk Coban Jahe, perjalanan cukup sulit dilakukan dengan kendaraan bermotor karena berupa jalan setapak tanah melalui pematang sawah serta kebun dan beberapa bagiannya makadam (batu yang ditata).  Bagi yang membawa kendaraan roda empat dapat memarkir kendaraan di lokasi parkir berupa hamparan tanah kosong  sekitar 100 m dari pintu masuk tersebut. Ada tanda petunjuk arah menuju coban jahe tidak jauh dari gapura pintu masuk kota Tumpang. Dari petunjuk arah ini menuju lokasi sekitar 7 km.

Septian Raditya
malangcorner


arief-arsitek


Tautan media yang lain