home

Arsitektur Kota Malang


Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di propinsi Jawa Timur setelah kota Surabaya, kota Malang telah lama berdiri sejak zaman kolonial Belanda. Kota Malang telah dikuasai Belanda sejak tahun 1767, dalam hal ini sistem dan perencanaan tata kota di kota Malang sangat dipengaruhi oleh Arsitektur Kolonial Belanda. Bangunan kolonial yang terdapat di kota Malang saat ini merupakan hasil arsitektur kolonial yang dibangun pada masa sesudah tahun 1920. Gaya arsitektur kolonial modern setelah tahun 1920 di Hindia Belanda pada waktu itu sering disebut sebagai gaya “Nieuwe Bouwen”. 

Arsitektur kolonial memiliki khas dan daya tarik tersendiri, sehingga masih sering dijumpai bangunan peninggalan zaman kolonial dipertahankan dan ditetapkan sebagai warisan budaya di kota Malang. Keunikan bangunan inilah yang membedakan bangunan kolonial peninggalan sejarah masa lalu kota Malang dengan bangunan lainnya yang muncul pada zaman modern seperti halnya sekarang ini. Meskipun gaya arsitektur yang ditunjukkan masih banyak dipengaruhi gaya arsitektur Belanda, tapi pada umumnya bentuk arsitektur bangunan sudah beradaptasi dengan iklim setempat. Sebagai kota yang berkembang dari sejarah pembangunan dari kolonial Balanda, Malang sangat banyak mendapatkan bentukan tata lingkungan maupun bangunan yang mempunyai nilai historis dan arsitektur masa kolonial yang menjadi bukti sebagai hasil dari adanya budaya indies sebelumnya di kota Malang. Oleh karena itu, hendaknya peninggalan bersejarah kota Malang tetap dilestarikan karena selain memiliki nilai historis yang tinggi juga dapat diangkat sebagai karakter spesifik arsitektur kawasan kota Malang. 

Menjadi kota jejak peninggalan sejarah Kolonial Belanda, tidak menjadi hal yang tabu jika nilai histori dari kolonial belanda masih terasa kental di kota Malang saat ini. Dikarnakan beberapa bangunan peninggalan masa colonial belanda masih dipertahankan sebagai warisan budaya. Ditinjau dari perkembangannya, kota Malang kini dapat disebut sebagai kota yang berkelanjutan (Sustainable City). Dikarenakan kota Malang memiliki aspek dan memenuhi karakter sustainable city. Dalam hal ini kota Malang sudah sangat selektif dalam merencanakan penataan kota. Pengelompokan tatanan kota telah ditentukan dengan baik, seperti adanya pusat kota yang menjadi area perekonomian yang berkelanjutan, karena dapat membantu perekonomian warga sekitar yang seharusnya juga mendapatkan keuntungan dari adanya pusat komersial. Disisi lain adanya pusat kota yang dijadikan sebagai area social berinteraksi dengan sesama, seperti alun-alun kota dan pusat peribadatan. Penyediaan open public space seperti inilah yang dibutuhkan masyarakat untuk kebutuhan berinteraksi dengan sesama dan munajat mengingat sang Pencipta, dengan konsep yang sesuai maka open public space akan menjadi pusat social yang berkelanjutan dengan nilai dan dampah yang positif. 

Sedangkan jika ditinjau dari adanya lingkungan yang berkelanjutan, kota Malang kurang memperhatikan tatanan peruntukan bangunan dengan baik. Ini dapat dilihat dari adanya bangunan yang tidak seharusnya berada atau dibangun di sekitar atau lingkup area yang bukan untuk peruntukannya, seperti adanya bangunan komersial yang didirikan di tengah-tengah area peruntukan pendidikan. Ini sangat membawa dampak yang negative, tidak hanya untuk pelajar pada umumnya namun juga berdampak pada kenyamanan pengguna di area pendidikan tersebut. Untuk itu perlu adanya tatanan kota yang lebih baik lagi demi mendukung infrastruktur kota yang lebih baik lagi. Tidak hanya ditinjau dari segi perekonomiannya saja, namun juga harus memperhatikan dampak untuk sosial, lingkungan dan pengguna (masyarakat).

Amira Dz H.
malangcorner.com


arief-arsitek


Tautan media yang lain