home

Desain Masjid Al-Irsyad


Fenomenal adalah kata yang tepat untuk menggambarkan Masjid Al-Irsyad di kawasan perumahan kota Baru Parahyangan, Padalarang, Bandung, Jawa barat ini. Masjid tanpa kubah tersebut dibangun oleh arsitek muda Ridwan Kamil. Luas bangunan Masjid Al-Irsyad: 1.500 m2, Luas keseluruhan area: 1 ha, dan Daya tampung jamaah: 1500 orang. Pemulaian pembangunan: 7 September 2009 dan Peresmian: 7 Agustus 2010.

     Bentuk masjid sekilas hanya kubus seperti kubus besar laiknya bentuk bangunan Kabah di Arab Saudi. Menurut sang arsitek dalam berbagai media, kubah hanya bagian dari identitas budaya, sehingga lebih memilih untuk menampilkan keislaman melalui kalimat dua syahadat raksasa. Kalimat ini ditampilkannya melalui susunan bata pembentuk dinding masjid. Dengan konsep ini, dari luar terlihat garis-garis hitam disekujur dinding masjid. Jika dicermati, kisi-kisi dinding dengan susunan bata bolong ini membentuk dua kalimat syahadat dalam huruf Arab.Teknik ini menjadikan tubuh bangunan layaknya sebuah seni kaligrafi tiga dimensi dengan ukuran yang sangat besar.

      Selain itu, kisi-kisi tersebut berfungsi sebagai penerangan yang bersifat bolak-balik dan sangat artistik. Siang hari, cahaya alami matahari akan menembus ke ruang dalam, meskipun sebaliknya pada malam hari cahaya dari dalam masjid akan memancar keluar, dan membentuk kaligrafi syahadat yang berpendar. Masuk ke ruang utama masjid, sejauh mata memandang terlihat ruang kubus berkapet merah hitam memanjang. Di bagian atap terdapat 99 kotak persegi yang merupakan lampu penerang, tepat diujung setiap kotak terdapat gutaran yang membentuk satu asma Allah.

     Mihrab juga berbeda dengan masjid lainnya. Mihrab berbentuk lorong persegi itu terbuka dibagian depan dan langsung menghadap pegunungan yang sangat indah. Mihrab dan mimbar diletakkan menjorok diatas sebuah kolam. Sebuah batu bilat berukir lafaz Allah Swt. Diposisikan tepat ditengah mihrab yang terbuka. Batu ini merupakan symbol untuk mencegah orang lewat di depan imam. Panorama pegunungan tersebut memperlihatkan superioritas kebesaran alam. Siapa pun yang tengah bermunajat ke hadapan-Nya dan melihat pemandangan tersebut akan merasa sangat kecil sehingga diharapkan manusia agar selalu rendah hati. 


arief-arsitek


Tautan media yang lain