home

Legenda Misteri Gunung Arjuno


Gunung-gunung di Jawa Timur banyak yang masih aktif dan kaya akan legenda. Kekayaan perasaan batin masyarakat di tambah dengan penghargaan kepada alam, terutama gunung, menciptakan berbagai legenda. Salah satunya adalah legenda tentang gunung Arjuna.  

Dahulu saking tingginya, puncak Gunung Arjuna ini diibaratkan menyentuh langit. Namun sekarang ketinggiannya hanya mencapai 3.339 meter di atas permukaan laut. Konon salah satu puncak Gunung Arjuna ini dipotong oleh Kiai Semar dan Kiai Togog, dan dilempar ke sebelah tenggara Kota Batu, yang kemudian diberi nama Gunung Wukir.

Ketika Misteri ke Imogiri, kebetulan di tempat itu ada priyayi luhur, Panembahan Agung Tejowulan. Tak lupa menghaturkan sungkem-bhakti, sambil menikmati wedang uwuh. Panembahan Agung Tejowulan bercerita, bahwa disamping makam Sultan Agung Hanyokrokusumo itu ada batu yang agak dhekok (cekung) karena saking seringnya dicium para penziarah. Disela batu cekung lantai makam itu, tanahnya sangat harum. Konon, tanah harum itulah yang dilempar Sunan Kalijogo dari Tanah Suci Arab.

Beberapa sahabat yang pernah menunaikan Ibadah Haji bilang, bau harum tanah makam Sultan Agung aromanya sama dengan bau harum batu Hajar Aswat. Entah karena kebetulan, atau legenda tentang Sultan Agung yang melempar segenggam tanah dari Tanah Suci, itu benar-benar terjadi, yang mungkin ada makna yang “tersirat” maupun yang “tersurat”.

“Yang harumnya hampir sama dengan tanah makan Sultan Agung Hanyokrokusumo di Tanah Jawa, ada di puncak Gunung Arjuno itu, bila dibakar seperti harum kemenyan wangi,” jelas Panembahan Agung Tejowulan kala di Imogiri.

“Tak mudah untuk menemukan Tanah Arum di bukit Arjuna itu, orang-orang yang berhati bersih akan dituntun untuk menemukannya,” lanjut Panembahan.

Beliau juga bahkan membawa contoh Tanah Arum dari puncak Gunung Arjuno, berwarna putih, dan aromanya memang harum, benar seperti apa yang dikatakan Panembahan Agung Tejowulan. Merasa tertarik dengan cerita beliau, Misteri mencoba menelusuri legenda dan mitos yang hidup di Gunung Arjuna tersebut.

Konon, penguasa gaib Gunung Arjuna ini berupa siluman ular raksasa mengenakan mahkota (jamang) dan dikepalanya ada tanduk sepasang yang cukup panjang. Meski Gunung Arjuna merupakan introspeksi diri bagi orng-orang yang sudah tinggi ilmunya, jika lolos ujian dia akan menjadi “Ratu Lelananging jagad” (baca: pemimpin yang ambeg adil paramarta), namun bagi mereka yang gagal dengan godaan yang dilakukan penguasa gaib Gunung Arjuna ini, ia akan menjadi budak iblis selamanya.

Orang yang datang ke Gunung Arjuna jika hatinya tidak bersih, namun dia memiliki kesaktian atau kewaskitaan batin yang tinggi, dirinya akan dijumpai oleh siluman naga pertala (naga bumi) yang dijanjikan kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa. Benar apa kata sahabat, bahwa mencari pesugihan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, yang artinya tidak setiap orang yang datang ppasti berhasil berkolaborasi dengan setan. Setan itu sangat jeli dan licik. Dia tidak mau rugi, memberikan harta benda dan kuasa yang banyak, kalau orang yang mencari itu juga tidak memiliki prospek. Dijamin pasti gagal.

Orang yang kemudian memuja siluman naga pertala ini akan diikat dengan perjanjian gaib, biasanya dia harus merelakaan tumbal setiap tahunnya. Bagi mereka tak akan sulit mencari tumbal, cukup karyawan atau anak buahnya dijadikan korban gaib. Umumnya korban siluman naga pertala penguasa Gunung Arjuna ini tubuhnya akan kering dan menghitam. Sehabis setor tumbal, para penyupang ini usahanya akan melejit dan atau yang terjun ke dunia politik posisinya akan naik dengan luar biasa.

Namun jangan silap, orang yang mengadakan perjanjian gaib dengan siluman Gunung Arjuna ini biasanya juga akan menerima nasib yang sama dengan orang-orang yang ditumballkannya. Para tumbal itu akan bebas, jika orang yang menumbalkan itu sudah mati.

Legenda Gunung Arjuna dikaitkan dengan perjalanan Radyan Dananjaya, ia salah satu dari Ksatria Pandawa, putra Prabu Pandu Dewanata dan ibunya Ratu Kunti Talibrata. Wajahhnya yang sangat rupawan dan kegemarannya bertapa, yang waktu mudanya sangat ingin jadi Lelananging Jagad.

Suatu hari dia bertapa di sebuah gunung, tubuh Radyan Dananjaya tiba-tiba bersinar dan mengeluarkan kekuatan yang dahsyat. Hasil tapanya ini mengakibatkan gunung tempat bersemedinya itu menjulang tinggi hingga dikisahhkan menyentuh langit. Hal ini membuat khayangan jonggring salaka geger, dan arcapada gema bumi, akibat ulah tapa bratanya Radyan Dananjaya.

Perjanjian Gaib dengan Siluman Gunung Arjuna Sebagai sesepuh para dewa, Rsi Kanekaputra diutus sang hyang jagad nata untuk mencari sumber masalah. Dan ditemukan di sebuah puncak gunung ada Radyan Dananjaya, ia di-“gugah” Rsi Kanekaputra agar “wedar” tapa bratanya, tapi tak digubris. Bahkanpara bidadari diutus untuk menggoda Radyan Dananjaya, agar bata tapa bratanya, dengan godaan paling erotispun juga gagal total.

Sampai-sampai Rsi Kanekaputra berkata, “Pantas, kamu diberi nama Dananjaya, yang artinya tak terkalahkan, dengan godaan apapun. Hanya satu yang bisa membatalkan tapa bratamu, yaitu Kakang Ismaya dan Kakang Tejamaya.”

Dihadapan Bhatara Ismaya dan Bhatara Tejamaya, Rsi Kanekaputra menceritakan apa yang terjadi. “Hanya Kakang berdua yang bisa menggugah tapa bratanya momongan-mu. Meski sudah digempur senjata khayangan oleh Senopati Jongring Saloka dan juga diray para bidadari tercantik, dia tetap tak bergeming. Jika tapa bratanya diteruskan, maka arcapeda akanhancur dan khayangan akan binasa. Tolonglah Kakang,” pinta Rsi Konekaputra atau sering disebut Bathara Narada, gelar kedewaannya.

Akhirnya Bathara Ismaya dan Bathara Tejomantri, turun ke arcapeda dengan berganti wadag (raga) menjadi abdi para ksatria; Ki Lurah Semar dan Ki Lurah Togog, sampai di tempat Radyan Dananjaya “teteki”, Semar mencari posisi di kanan, Togog di kiri, dan memotong puncak gunung tersebut, lalu dibuang atau dilemparkan ke arah tenggara. Konon jatuhnya gunung di tenggara itu sekarang dikenal dengan nama Gunung Wukir.

Karena puncak gunung tempat bertapa dipotong, Radyan Dananjaya terjatuh, hingga tersadar dari tapa bratanya. Dan betapa terkejutnya ketika melihat di kanannya telah berdiri Sang Pamomong Ki Lurah Semar, dan sebelah kiri berdiri Ki Lurah Togog.

“Apa yang terjadi Uwa?” tanya Radyan Dananjaya.

“Kami baru melemparkan puncak gunung yang Radyan gunakan untuk bertapa,” jawab Semar kalem.

“Lho, kenapa Uwa lakukan padaku?” tanya lagi.

“Uwa hanya ingin memperingatkan. Masih belum cukupkah kesaktian yang Radyan Dananjaya miliki sekarang ini? Ingatlah Radyan ini Panengah Pandawa, yang juga memiliki nama Arjuno, dijuluki Sang Lelananging Jagad, yang sangat sakti mahambara, disegani kawan dan ditakuti lawan. Belum cukupkah semua itu?” tanya nasehat dengan keras namun bijak.

Radyan Dananjaya hanya diam menunduk, mulai menyadari kesalahannya. Semar melanjutkan wejangnya. “Radyan dijuluki Dananjaya; yang tak terkalahkan. Tapi Radyan ternyata belum bisa mengalahkan kesombongan, keangkuhan dan ambisi, Radyan. Sadarkah dari apa yang kamu lakukan ini telah menimbulkan malapetaka, arcapeda hancur dan jonggring saloka kacau balau.”

Segera Radyan Dananjaya menyadari kekhilafannya dan segera menubruk kaki Uwa Semar dan Uwa Togog. Dia ksatria, dan tak malu meminta maaf dengan apa yang telah dilakukannya itu jika memang keliru.

“Untuk mengingat-ingat kejadian ini, agar tidak ditiru anak cucu kelak, maka gunung tempatmu bertapa ini tidak aku beri nama Gunung Dananjaya, karena kamu masih dikalahkan oleh ambisi dan kesombonganmu. Sebaiknya kuberi nama Gunung Arjuna, yang telah sadar dari kekeliruannya,” sabda Uwa Semar badranaya.

Dan sejak kejadian itu gunung tersebut dikenal dengan nama Gunung Arjuna. Hingga sekarang puncak Gunung Arjuna masih sering digunakan untuk tirakat para ahli kebatinan, katanya belum tuntas ilmu Wong Jowo bila belum bisa menaklukkan puncak Gunung Arjuna. Padahal ajaran ini menyiratkan bahwa kita belum sempurna nggegulang kawruh kebatinan jika batin kita masih dikuasai oleh kesombongan, keangkuhan, ambisi keserakahan akan keduniawian. Manusia sering lupa diri, lebih-lebih kalau sedang bernasib baik, akan cenderung menjadi sombong dan tinggi hati yang bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Alangkah bijaknya jika kita selalu rendah hati meskipun memiliki keistimewaan tertentu yang dianugerahi Gusti Allah. 

Namun dari itu semuanya banyak sekali versi-versi lain dari gunung arjuna sendiri baik itu dari sejarah sampai ke masyarakaynya sendiri. 

Raditya Septian
malangcorner


arief-arsitek


Tautan media yang lain