home

Lokasi Unik Kawasan Kajoe Tangan Di Malang


Kawasan Kajoe Tangan. Kawasan yang penuh dengan sejarah yang seakan redup dan mati suri seiring dengan perkembangan hiruk pikuknya jaman kala ini. Nama Kajoe Tangan banyak ditemukan di buku laporan Belanda tahun 1890an dan masih dikenal hingga kini. Asal mula nama Kayu Tangan memiliki dua versi. Yang pertama menyebutkan bahwa nama Kayu Tangan bermula dengan adanya penunjuk arah di pertigaan Oro-Oro Dowo yang terbuat dari kayu dan berbentuk tangan. Sedangkan versi yang kedua menyebutkan bahwa asal mula nama Kayu Tangan karena di ujung jalan arah alun-alun terdapat pohon yang memiliki daun menyerupai bentuk tangan. Akan tetapi masih belum dipastikan versi mana yang paling benar. Entahlah. 

Kajoe Tangan atau Kayu Tangan atau yang sekarang lebih dikenal dengan Jalan Basuki Rachmad merupakan kawasan yang disebut Jalan Pita oleh orang Eropa. Jika kita menelusuri jalan ini, maka jangan heran jika nuansa kolonialnya masih cukup kental di kawasan ini. Disini banyak para warga Eropa  yang menetap dan menjalani hidupnya. Banyaknya ruko-ruko yang didominasi oleh orang Eropa membuat kawasan ini menjadi pusat komersial yang maju di masanya. Sempat beberapa tahun kawasan ini meredup akan tetapi menjadi ramai kembali sekitar tahun 90an. 

Lalu bagaimana dengan bangunan-bangunan di kawasan tersebut saat ini? Jika dilihat dari kawasan tersebut, masih ada beberapa bangunan yang masih dipertahankan keasliannya, akan tetapi juga tidak sedikit bangunan peninggalan kolonial tersebut yang dirobohkan dan dibangun kembali dengan gaya arsitektur yang lebih modern yang jauh dari gaya arsitektur sebelumnya. Kawasan Kajoe Tangan merupakan kawasan bersejarah yang mempunyai nilai heritage yang tidak kalah dengan kawasan bersejarah lainnya yang ada di Kota Malang, Kawasan Tugu atau alun-alun misalnya. Perlunya kesadaran dan kepedulian masyarakat dan pemerintah sekitar pada khususnya sangat diperlukan. Jika memang kepedulian tersebut ada, bisa jadi Kawasan Kajoe Tangan akan kembali berjaya sama halnya pada zamannya dulu. 
 


Pembangunan di Kawasan Kajoe Tangan saat ini.

Terlepas dari hal tersebut, sebenarnya masih bisa kita jumpai beberapa bangunan yang masih terjaga keasliannya meskipun sudah melewati masa yang cukup lama. Banyak ruko yang sudah ditutup dan dipenuhi coretan di bagian facadenya namun tetap mempelihatkan ciri khas  yang sarat akan nilai arsitektur yang terkubur di dalamnya. Namun, ada beberapa toko yang masih beroperasi, diantaranya Toko Riang, Megaria, Lido, pertigaan PLN, Sate Gebuk, Optik Surya, dan Toko Tembakau. Diantara bangunan tersebut masih mempertahankan keasliannya. 
 


Coretan di facade ruko kawasan Kajoe Tangan.

 


Ruko-ruko yang mulai sudah ditutup dan ditinggalkan serta coretan di beberapa facadenya.

Lalu lalang kendaraan di sepanjang kawasan Kajoe Tangan tidak pernah sepi. Hal ini disebabkan karena jalur tersebut merupakan jalur yang biasa dilewati oleh warga Malang sendiri ataupun masyarakat yang hendak atau dari kota lain. Dari hal tersebutlah, peluang besar kawasan Kajoe Tangan sangat dikenal. Alangkah lebih baiknya lagi jika penataan yang ada disepanjang jalur tersebut lebih terawat dan menunjukkan bahwa kawasan tersebut merupakan salah satu bukti sejarah Kota Malang. 
Selain ruko-ruko yang berjejer di sepanjang kawasan Kajoe Tangan, juga terdapat gereja yang masyarakat sekitar menyebutnya dengan Gereja Kayu Tangan. Gaya arsitektur yang sangat kental bisa kita lihat pada bangunan gereja tersebut. Gereja dengan gaya Gothik tertua di Kota Malang ini jelas memperlihatkan garis vertikal yang tegas dan menjulang tinggi. Keasliannya juga masih terjaga dan cukup terawat. Kemudian kita beralih ke gang-gang atau kampung di belakang pertokoan sepanjang kawasan Kajoe Tangan. Konon, kampung tersebut merupakan kampung para warga pribumi yang dulunya mencari pekerjaan sebagai pelayan toko dengan melakukan pendekatan dengan cara menyewa rumah tepat di belakang totko. Namun, dengan seiring perkembangan zaman, mereka mulai menetap dan hidup di daerah tersebut. Dengan adanya ruko-ruko di sepanjang kawasan tersebut, maka sangat membantu warga pribumi khususnya dalam perekonimian mereka kala itu.
 
Gereja Kayu Tangan dengan Gaya Arsitektur Gothiknya.
Kembali lagi pada citra kawasan Kajoe Tangan. Meskipun sudah banyak yang berubah di kawasan tersebut, namun patut diapresiasi usaha pemerintah sekitar yang mulai menata jalan dan perletakan bangunan saat ini, meskipun masih jauh dari zaman kolonial dulu. Akan sangat disayangkan lagi jika kawasan tersebut terus dibiarkan dan diterlantarkan sehingga akan tergerus zaman akan sejarah yang dulunya sempat berjaya di kawasan tersebut. Semoga kesadaran akan pentingnya sejarah di suatu daerah mulai tumbuh dan diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah pada khususnya demi Kota Malang yang lebih baik.

Lela Juni Astutik
malangcorner


arief-arsitek


Tautan media yang lain