home

Perkembangan Arsitektur Kolonial Di Malang


Secara garis besar perkembangan arsitektur kolonial di Malang tidak berbeda dengan perkembangan arsitektur di Hindia Belanda pada kurun waktu yang sama.

Gaya arsitektur yang disebut sebagai ”Indische Empire” yang berkembang sampai akhir abad ke 19, juga terdapat di Malang, terutama sekali pada gedung-gedung pemerintahan seperti gedung Asisten Residen di alun-alun pusat kota Malang (sekarang sudah hancur).

Hanya saja sebelum tahun 1900an Malang masih merupakan sebuah kota kabupaten kecil, sehingga bangunan pemerintahan tidak begitu banyak disana.
Oleh sebab itu, peninggalan arsitektur dengan gaya ”Indische Empire” ini sekarang sangat jarang dijumpai di Malang.
Walaupun ada, tempatnya harus dicari di daerah sekitar alun-alun kota, karena disanalah dulu merupakan inti kota Malang dimasa lalu.
Sekarang daerah disekitar alun-alun kota justru merupakan daerah yang punya nilai ekonomi yang tinggi, sehingga otomatis merupakan suatu daerah yang cepat berkembang/ berubah.

Sayang sekali karena hal-hal diatas maka asitektur dengan gaya ”Indische Empire” ini di Malang sekarang boleh dikatakan sudah tidak tersisa.
Hampir semua bangunan kolonial yang tersisa di Malang sekarang dibangun setelah tahun 1900 (sebagian besar dibangun setelah tahun 1920an selaras dengan perkembangan kotanya), yang diistilahkan sebagai arsitektur kolonial modern.
Arsitektur kolonial yang cukup besar, yang dibangun setelah tahun 1900 di Malang adalah: Gereja Hati Kudus Jesus di Jl. Kayutangan (Basuki Rachmad), yang dibangun pada th. 1905.

Arsiteknya adalah Maruis J. Hulswit.
Tapi pembangunan gereja gaya Neo Gothik di Malang ini secara keseluruhan tidak begitu punya pengaruh terhadap perkembangan arsitektur kolonial di Malang pada umumnya. 
Secara garis besar perkembangan arsitektur kolonial di Malang yang dibangun setelah tahun 1914 bisa dibagi menjadi 2 bagian yaitu yang dibangun antara tahun 1914-1920 dan yang dibangun sesudah tahun 1920-1940an.

Arsitektur yang dibangun antara th. 1914-1920 an dapat disebutkan misalnya:
- Javasche Bank (sekarang Bank Indonesia) disebelah Utara alun-alun dibangun tahun 1915, arsiteknya adalah Hulswit, Fermont & Cuypers.
- Palace Hotel (sekarang Hoel Pelangi), dibangun antara tahun 1916, disebelah Selatan alun-alun, arsiteknya tidak diketahui dengan jelas.
- Kantor Pos dan Tilgram (sekarang sudah dibongkar) terletak di Jalan Kayutangan (Basuki Rachmad) dibangun antara tahun 1910 arsiteknya BOW (Burgelijke Openbare Werken, dan sebagainya.

Sebagian besar bangunan umum sebelum tahun 1920an kebanyakan dibangun disekitar alun-alun, karena pusat kotanya masih terletak disana.
Jumlahnya tidak terlalu banyak karena kota Malang masih belum mengalami perkembangan yang pesat.
Gaya arsitektur ”Indische Empire” pada tahun-tahun ini sudah menghilang.
Arsitektur Kolonial yang dibangun sebelum tahun 1920 an sebagian besar sudah ditangani oleh tenaga profesional.
Meskipun gaya arsitektur yang ditunjukkan masih banyak dipengaruhi oleh arsitektur di Belanda tapi pada umumnya bentuk-bentuk arsitekturnya sudah beradaptasi dengan iklim setempat.

Hal ini ditunjukkan misalnya dengan menempatkan galeri keliling bangunan (dengan maksud supaya sinar matahari langsung dan tampias air hujan tidak langsung masuk melalui jendela atau pintu). Adanya atap-atap susun dengan ventilasi atap yang baik, serta overstek-overstek yang cukup panjang untuk pembayangan tembok.
Tapi secara keseluruhan bentuk arsitekturnya masih belum merujuk ke bentuk modern, yang baru berkembang setelah tahun 1920an.

Arsitektur kolonial yang dibangun antara th. 1920 sampai 1940 an dapat disebutkan misalnya:
- Zusterschool (Jl. Tjelaket- dibangun antara th. 1926 arsiteknya Hulswit, Fermont & Ed.Cuypers).
- Fraterschool (Jl. Tjelaket, dibangun antara tahun 1926, arsiteknya Hulswit, Fermont & Ed.Cuypers)
- Komplek pertokoan di perempatan Jl. Kayutangan (dibangun ahun 1936, arsiteknya Karel Bos) 
- Balai Kota Malang (dibangun th. 1927-1929, arsiteknya H.F. Horn) 
- Gedung HBS/AMS di J.P. Coen Plein (alon-alon bunder, dibangun tahun 
1931, arsiteknya Ir. W. Lemei)
- Theresiakerk (gereja Santa Theresia) di depan 
Boeringplein (taman Buring) dibangun tahun 1936, arsiteknya Rijksen en Estourgie. 
- Gedung Maconieke Lodge, di Tjerme plein (taman Cerme), dibangun tahun 1935, arsiteknya Ir. W. Mulder. 
- Pertokoan Jl.Kayutangan, dibangun tahun 1935 an arsiteknya tidak jelas, dan sebagainya.
Sebagian besar gedung-gedung kolonial yang ada di Malang dibangun sesudah tahun 1920.
Gaya arsitektur kolonial modern setelah th. 1920 an di Hindia Belanda pada waktu itu sering disebut sebagai gaya ”Nieuwe Bouwen”, yang disesuaikan dengan iklim dan teknik bangunan di Hindia-Belanda waktu itu.

Sebagian besar menonjol dengan ciri-ciri seperti: atap datar, gevel horisontal, volume bangunan yang berbentuk kubus, serta warna putih (Gedung Monieke Lodge, pertokoan di perempatan Jl. Kayutangan, pertokoan lainnya di sepanjang Jl. Kayutangan dan sebagainya).
Jadi sebagian gedung-gedung kolonial yang ada di Malang umurnya rata-rata kurang lebih baru 60 tahun.

Isma Risqiawati
PT. Areif Arsitek
redaksi@malangcorner.com


arief-arsitek


Tautan media yang lain