home

Ternyata Malang dulu didominasi oleh gaya arsitektur kolonial bernama Thomas Karsten


Malang merupakan kota dengan kepadatan penduduk yang sangat tinggi. hal itu disebabkan karena banyak faktor salah satunya karena banyaknya kampus yang ada di kota ini. di Malang terdapat tiga universitas negeri dan banyak universitas swasta yang mempunyai banyak mahasiswa. hal ini menyebabkan banyak pendatang di kota Malang untuk mendirikan berbagai macam bidang usaha. sehingga banyak budaya luar daerah yang masuk di kota Malang yang membuat semakin terkikisnya budaya lokal yang ada terutama dalam segi arsitekturnya.
 
Malang dulu didominasi oleh gaya arsitektur kolonial yang dipelopori oleh Thomas Karsten seorang arsitek dari Belanda. bahkan sampai sekarang-pun masih ada beberapa kawasan yang mempertahankan gaya arsitektur kolonial tersebut diantaranya kawasan Jl.Ijen, jl.merapi, jl.bromo, jl.tangkuban perahu, kawasan kayu tangan, dll.
 
Dimulai dari kawasan kayu tangan, terjadi restorasi arsitektur yang menjadi lebih modern. bahkan, modernisasi semacam ini mulai merambah hingga kawasan ijen saat ini, yang pada zamannya kawasan ijen merupakan kawasan perumahan paling bonavit di dunia. namun kini kawasan tersebut nampak mulai digerogoti oleh modernisasi budaya global yang menghapus keotentikan masa jaya arsitektur kolonial. yang patut disanyangkan adalah modernisasi yang ada pada kawasan ijen dan sekitarnya, bahkan hingga kawasan kayu tangan yang tersisa beberapa bangunan saja yang mempunyai gaya arsitektur kolonial pada kenyatannya tidak membuktikan apapun kecuali keangkuhan dan keegoisan si perancang yang mencirikan sifat individualistik tanpa memperhatikan bangunan yang ada di sekitarnya.
 
Amat sangat kontras bila kita refleksikan pada gaya arsitektur jengki yang pada awalnya dicetuskan untuk menghancurkan, menghapuskan, menghilangkan, bahkan membunuh nilai-nilai kolonialisme. karena pada era awal kemerdekaan kita begitu bencinya terhadap masa-masa penjajahan yang menghancurkan moral bangsa indonesia. pada kenyataan yang ada saat ini pembangunan-pembangunan tidak didasarkan pada nilai-nilai dan norma-norma yang yang sesuai dengan lokalitas yang ada di daerah ijen pada khusunya dan Malang pada umumnya.
 
Sebagai punggawa arsitektur yang lahir di bumi pertiwi. sudah menjadi kewajiban kita untuk mampu mengakulturasikan budaya lokal dengan arus modernisasi tanpa menghapus nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal kita sendiri, sehingga pada saatnya nanti kita mampu menjadi arsitek yang berjati diri dan gaya arsitektur yang mandiri.
 
 
Ulil Hudha / Ir. Arief Rakhman Setiono, MT.


arief-arsitek


Tautan media yang lain